Di Liga Inggris musim 2016/2017 ini, Leicester City berkutat dengan ancaman degradasi ke Championship. The Foxes berada di posisi 17 klasemen dengan raihan 21 poin, atau hanya satu angka dari Hull City yang berada di posisi zona merah.
Dalam 25 pertandingan Liga Inggris yang dijalani, Leicester hanya bisa menang sebanyak 5 kali. Petinggi Leicester City tentu sangat tidak puas dengan hasil akhir tersebut, akhirnya dengan tanpa belas kasihan memecat sang Italiano itu.
Ranieri adalah seorang manajer yang berjasa ketika Leicester menjadi kampiun Liga Inggris musim lalu (musim 2015/2016). Dia membalikkan prediksi bursa taruhan dengan koefisien 5000-1.
Selang 298 hari kemudian, Claudio Ranieri lalu dipecat. Luciano Spalletti selaku Pelatih AS Roma menyatakan simpatinya kepada Ranieri sampai bilang bahwa rasa terima kasih dalam sepakbola sudah tak ada lagi.
"Tidak ada rasa terima kasih terhadap Ranieri, dia adalah seorang yang menciptakan tim ini dan ikatan emosionalnya, sehingga menghasilkan kemenangan gelar juara di musim lalu", kata Spalletti seperti yang dilansir oleh Soccerway.
"Ketika Anda memenangi musim dengan cara ini, andai Anda bersikap logis (soal klub) maka Anda juga wajib menerima kemungkinan degradasi. Di antara 2 hal (gelar juara dan degradasi), hubungan ini berbeda sangat jauh menjadi juara jauh lebih penting dalam hal semua sukacita dan hasil akhirnya."
"Saya bersimpati kepada Ranieri, mempertimbangkan dia tinggal di kota kami (Roma), seharusnya dia memiliki keinginan dan mengunjungi kami, kami akan senang bisa menjumpainya, jadi dia bisa membagikan kepada kami pengalaman yang dimilikinya selama di Inggris", tutupnya.
